img-5605

MOU Pemkab Kulon Progo -Yayasan Damandiri – “APMD” : Entaskan Kemiskinan Kembangkan Posdaya

Setelah sukses mengembangkan Posdaya di hampir 200 Kabupaten/Kota diseluruh Indonesia, Yayasan Damandiri terus melakukan sosialisasi pengembangan Posdaya di berbagai wilayah agar Posdaya dapat berfungsi seperti mata air dimana pancuran-pancuran kecil yang memancarkan air keatas meskipun tidak besar, tetapi akan memercikan air disekitar pancuran sehingga memberi manfaat bagi orang banyak.

Dalam sambutannya pada acara Sosialisasi Posdaya di Gedung Kaca Kabupaten Kulon Progo DIY , Rabu (01/02) Bupati terpilih untuk periode tahun 2011-2016, DR. Hasto Wardoyo SpOG merespon positif program yang dibawa oleh Prof. DR. H. Haryono Suyono karena sangat selaras dengan program yang tengah dilakukan di Kabupaten Kulonprogo, yaitu pengentasan kemiskinan.

Menurut Hasto, selama ini bantuan kepada masyarakat miskin masih belum memiliki unit analisis yang jelas, sehingga evaluasinya juga menjadi kabur. Dengan adanya Posdaya, fokus perhatian kita bisa dilakukan melalui unit analisis terkecil yaitu keluarga karena keluarga adalah lembaga utama yang terdekat dan paling akrab dengan setiap anggotanya. “Jika keluarga bermutu dan kuat maka akan menjadi wahana pembangunan bangsa yang sangat efektif, karena kualitas sumberdaya manusia akan sangat ditentukan oleh kualitas keluarga itu sendiri.” Ujarnya pasti.

Disinilah perlunya dukungan pemberdayaan, pelayanan paripurna dan dinamik agar setiap keluarga dapat melaksanakan fungsi-fungsi utamanya dengan baik.

Dalam peluncuran “Album Kemiskinan” akhir tahun 2011 lalu, dimana data warga miskin secara deteil disajikan mulai dari nama kepala keluarga, jumlah anggota, usia dan alamatnya, membuat para dermawan yang terdiri dari kalangan pengusaha dalam negeri, secara spontan tergerak menghimpun dana untuk mengangkat kemiskinan dari wilayah Kulon Progo.

Dalam waktu dua jam saja terkumpul sumbangan senilai US$ 1500 dan Rp. 500 Juta. Belum lagi dana yang terkumpul dari zakat, infak, shodaqoh para PNS yang terus meningkat dalam kurun waktu September 2011- Februari 2012 . Tak kurang dari Rp. 96 Juta setiap bulannya dapat terkumpul, sehingga sepanjang tahun 2012 nantinya, jumlah dana diperkirakan dapat mencapai Rp 1 milyar, jauh melampaui tahun-tahun sebelumnya. Itu sebabnya Hasto merasa optimis bahwa wilayahnya dapat meningkatkan IPM secara lebih signifikan dengan berkonsentrasi pada beberapa bidang antara lain ekonomi dan Pendidikan disamping kesehatan dan lingkungan hidup.
Didalam album kemiskinan itu pula, akan terlihat keberhasilan pembangunan di wilayah Kulon Progo setiap tahunnya.

Bupati yang punya komitmen tidak makan nasi selama masyarakat Kulon Progo masih ada yang belum mampu membeli beras ini menyatakan pula bahwa diagnosis kemiskinan dilakukan diunit-unit terkecil masyarakat agar dapat ditemukan akar masalah penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program pengentasan kemiskinan dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat tersebut.

Terkait Program Posdaya, saat ini di Kulonprogo ada 3 kecamatan yang sudah memiliki Posdaya, yaitu Kecamatan Pengasih, Temon dan Panjatan. Setelah sosialisasi ini diharapkan 9 Kecamatan lainnya dapat mengadopsi program posdaya.

Sementara itu Muhamad Rosyid, Kepala Badan KB Kabupaten Wonosobo yang mewakili Bupati Wonosobo dalam memberikan sambutannya mengatakan, selama ini perkenalan dengan prof. Haryono dan Posdaya hanya melalui majalahnya saja, “Besar harapan kami agar pak Haryono mau memberi pencerahan di Wonosobo yang saat ini memiliki 1400 kelompok UPPKS dan siap membentuk Posdaya untuk dapat mengakses pula program Tabur Puja yang baru diluncurkan oleh Yayasan Damandiri. Itu sebabnya saya membawa rombongan yang terdiri dari kader calon Posdaya, Direktur Bank Wonosobo dan Ketua Asosiasi UPPKS, untuk mengetahui lebih jauh tentang Posdaya,” Ujarnya bersemangat.

Rosyid meyakinkan pula bahwa masyarakat Wonosobo taat dalam mengangsur kredit mereka, dicontohkan untuk program Kukesra senilai Rp 19 Milyar, tunggakannya tidak sampai 3 persen.

Dalam Sosialisasi Posdaya yang diselingi pula dengan penandatanganan MOU antara Yayasan Damandiri dengan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo serta Tujuh Rektor Universitas Di Jogjakarta yaitu Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Taman Siswa (UST), Universitas Negeri Yogjakarta (UNY), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Jana Badra (UJB), Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD”. Prof. Dr. Haryono Suyono mengajak kalangan akademisi bersama SKPD dibawah komando Bupati, anggota PWRI yang terdiri dari para pensiunan serta Isteri para mentri yang tergabung dalam SIKIP, bersama-sama turun kedesa mendampingi masyarakat mengembangkan Posdaya.

Ditegaskan pula bahwa pembangunan berbasis keluarga harus memanfaatkan dukungan kearifan lokal sedangkan program pembangunan yang berkeadilan seperti yang tertuang dalam Intruksi Presiden adalah pembangunan pro rakyat, keadilan untuk semua dan menuju pada pencapaian milenium Development Goals (MDG’s).

Mantan Menko Kesra dan Taskin ini mengajak para Bupati dan Pemda setempat mengubah program pengentasan kemiskinan yang bersifat charity menjadi pendekatan melalui Human Right, dengan terus giat belajar, bekerja keras dan cerdas serta optimis.

Prof. Haryono mengutarakan pula bahwa ukuran keberhasilan pembangunan keluarga bukan pada jumlah milyar, tetapi berapa banyak keluarga yang ikut dalam gerak pembangunan. Untuk mengentaskan kemiskinan, satu keluarga kaya harus mendampingi satu keluarga miskin.

Lebih lanjut dijabarkan, diperlukan penguatan pilar pendanaan bank untuk anggota Posdaya, sehingga Yayasan Damandiri mengajak dua mitra Bank dalam sosialisasi posdaya ini, yaitu BPR dan Bank Bukopin serta menyiapkan dana sebesar Rp. 2 Milyar pada aksi pertama ini .

“Para camat, Lurah dan Mahasiswa, mari bentuk Posdaya sebanyak-banyaknya agar skim pendanaan tanpa agunan berpola tanggung renteng ini dapat terserap optimal,” Himbaunya, dengan sumringah.

Menutup paparannya, Prof Haryono mengajak para perusahaan turut mendukung Posdaya dengan mengeluarkan dana CSRnya untuk mendukung 8 target pemberdayaan yaitu pengentasan kemiskinan, peningkatan budaya belajar, kesetaraan jender, penurunan kematian anak dan ibu hamil, peningkatan kesehatan ibu, penanggulangan HIV/AIDS, lingkungan hidup yang bergizi serta memberikan penghargaan kepada kader pejuang atau relawan penggerak pembangunan .

Adapun penawaran menarik bagi para relawan Posdaya yang terdiri dari para mahasiswa seusai mereka melaksanakan KKN Thematik Posdaya, Jika pendampingan terus dilakukan, mereka akan diberi beasiswa senilai biaya SPP tiap semester.

byu

MoU : Brigham Young University (BYU) dengan STPMD “APMD”

Pada tanggal 19 April 2012 telah ditandatangi Memorandum of Understanding (MoU) antara Brigham Young University (BYU) dengan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD”. MoU tersebut meliputi bidang pendidikan dan Penelitian. Dari BYU diwakili oleh Ralph B. Brown Ph.D.